fiksi · Sastra

Kilatan Cahaya Lantai Keramik

Digeretnya kursi depan komputer, menghempaskan tubuh sambil menghela nafas dalam-dalam. Pelan dan menikmati kepulan asap rokok. Torik memejamkan matanya sesaat, sekujur tubuhnya berpeluh keringat. Sensasi barusan yang dialaminya cukup membuat nafas itu memburu cepat. Jantung dan lelehan darah dalam tubuh seakan berlomba. Dibukanya mata itu, memandangi langit-langit dalam ruangan kantor yang menjadi basis penghasilannya selama… Continue reading Kilatan Cahaya Lantai Keramik

Sastra

Lorong Waktu Narya

“Hmm, lorong ini begitu panjang. Jalanan licin dan tidak ada cahaya penerangan sama sekali eh, ada. Cahaya dari sinar bulan yang tengah mengintip tapi sedikit malu-malu..” “Dasar perempuan tolol, kampungan! hidup saya semenjak sama kamu sial terus tau!” sambil membanting pintu kamar Terngiang kembali hardikan suaminya. “Ya Allah dosa apa yang telah hamba perbuat sehingga… Continue reading Lorong Waktu Narya

fiksi

Sebening Raut Wajah


sebening raut wajah

Nyaring suara mesin jahit seakan memecah keheningan malam itu. Sinta yang tengah mengayunkan kaki di pedal dinamo mesin jahit seakan asyik sendiri. Sudah beberapa hari ini banyak konsumen yang meminta jasanya, yaah..walau pun sekedar rombak merombak celana jeans. Sinta berusaha melayani dengan baik, ia tak mau mengecewakan para langganannya.

Tiba-tiba anak bungsunya yang baru berusia enam tahun dan tengah asyik bermain disamping mesin jahit, menjerit kencang sambil menangis dengan histeris. Bingung dan kelabakan ada apa dengan anaknya, Sinta segera meraih sang bocah lantas dipeluknya dengan erat. “cup..cup, ada apa sayang, kenapa menangis?..” Si anak bukannya terdiam dengan belaian Sinta, dia malah tambah histeris, sambil terisak menunjuk ke arah belakang punggung Sinta.

Wajah pucat pasi dan tubuhnya gemetaran, sang anak hampir saja pingsan. Sinta pun berteriak meminta pertolongan. Dibopongnya sambil berlari ke arah rumah tetangga depannya. Diberinya segelas air putih oleh si mbah tetangga depan, si anak pun mulai siuman, lalu tiba-tiba ia menjerit dan menangis lagi. Semua yang ada di rumah itu terheran-heran. Satu dua tetangga yang lain pun berdatangan. Mereka ikut bertanya-tanya “ada apa..?!”

Selang beberapa saat, bocah  itu mulai terlihat tenang. Mungkin karena dilihatnya banyak kerumunan orang. Dengan perlahan dan hati-hati si mbah depan rumah bertanya “dede, tadi kenapa menangis? dede jatuh engga, mana yang sakit?..” Engga mbah, dede ga jatuh tapi tadi dede lihat dibelakang punggung mama ada perempuan berambut panjang, bola matanya kayak lilin meleleh gitu, tapi ada banyak darah dibajunya. “Gubrak!”, suara orang terjatuh diantara kerumunan.

Tubuh Sinta dibopong beberapa tetangga dan ditempatkan di kursi panjang. Seisi rumah si mbah mendadak terdiam, mereka saling bertatapan. “Gedubraaak!!” satu persatu orang-orang itu mulai berjatuhan. Setelah meraka melihat sebening raut wajah  dibalik tirai jendela si mbah, ada sesosok wanita dengan wajah rata dan tak berbentuk.

 

*note: segera baca ayat kursi yaa hihihi

 

fiksi

Kilatan Cahaya Lantai Keramik (2)

Masih bergelut dengan tuts keyboard. Torik hari itu berhasil menyelesaikan satu artikelnya tentang lingkungan. Pagi-pagi sekali Torik bergegas menuju kantor, ia tahu jalanan Jakarta pasti macet. Segelas kopi dan sepotong kue pastel jumbo sisa semalam, diciumnya “ah, layak makan” sambil nyengir Torik menyadari kelakuannya sendiri. Diliriknya jam bentuk segitiga yang bertengger diatas meja. Pukul 06… Continue reading Kilatan Cahaya Lantai Keramik (2)

Puisi · Sastra

Dalam Diam Sembunyikan Luka

Berkilo-kilo jejak tanah telah mengaliri sepasang kaki Berhamburan suka cita dan gembira menyambut hari Ketika dekapan merajah dalam biusan aura surgawai Kemarau tiba-tiba membanjiri suasana kala semedi Hilir mudik mata memandang suasana malam kelam Gertakan terlontar kemudian tenggelam dalam diam Bicara semampu isi hati merunut waktu terkebiri faham Obsesi kepongahan menjulang dari raut warisan sekam… Continue reading Dalam Diam Sembunyikan Luka

Puisi · Sastra

Meratas Kebodohan

Tak guna air mata tatapan hampa Sebisanya nyanyian ini ku dendang Sakit hanya sebatas teori semua lupa Ada janji yang memuai Ada titah yang tak sesuai Ada salah yang ku bikin pandai Silahkan jerat waktu hamba Singkirkan ego dalam diri ini Suguhkan kata manis dalam bukti Singgasana tak ramah kelak ku buat mati Bukan janji… Continue reading Meratas Kebodohan